Perekonomian Dewasa Saat Ini
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Bank Rakyat
Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mengakui bahwa dari dari sebanyak total 22.792
ATM per 2015 lalu, sejumlah 1 persen atau 227 ATM diantaranya mengalami
masalah.
Hal ini disebabkan selain karena masalah umur pakai, juga
disebabkan karena beberapa masalah teknis lain seperti sparepart terlambat
datang dan gangguan jaringan yang disebabkan listrik padam.
Direktur Utama BRI Asmawi Syam mengklaim saat ini kelayakan
atau availibility ATM
bank berkode BBRI ini adalah sebanyak 99 persen. Artinya, menurut Asmawi
sebanyak 99 persen dari total ATM BRI yang tersebar di seluruh Indonesia layak
dan bisa digunakan untuk transaksi normal.
Angka ini menurut Asmawi jauh lebih tinggi dari standar
kelayakan atau availibility ATM
sebesar 96 persen sampai 97 persen.
“Salah satu persoalan yang dihadapi BRI terkait ATM ini
adalah jumlahnya sangat banyak dan tersebar sampai pelosok di seluruh
Indonesia,” ujar Asmawi.
Asmawi mengatakan selain disebabkan karena sparepart ATM yang
terlambat datang sebanyak 227 ATM yang bermasalah juga sering disebabkan karena
uang dalam ATM habis.
Untuk memperbaiki permasalahan teknis tersebut,
BRI telah mengembangkan ATM bertenaga surya.
Tahun ini bank rakyat ini akan mengadakan sebesar 100 ATM
bertenaga surya yang akan disebar diseluruh wilayah Indonesia.
Untuk mengadakan per ATM bertenaga surya ini BRI harus
merogoh kocek sebesar Rp 200 juta per unit ATM. Dengan demikian, biaya
pembangunan 100 unit ATM tahun depan minimal sebesar Rp 200 milliar.
Terkait dengan pengadaan ATM bertenaga surya ini sudah
dimasukkan dalam rencana bisnis bank (RBB) 2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar